Darilaut – Peneliti Universitas Negeri Gorontalo (UNG) dan Vrije Universiteit Amsterdam, Netherland, menyoroti krisis penggunaan merkuri pada Pertambangan Emas Skala Kecil (PESK) di Indonesia.
Hasil kolaborasi riset ini mengungkap bahwa hukum yang hanya berfokus pada penegakan dan hukuman seringkali gagal. Penggerebekan sering kali hanya memicu perpindahan lokasi aktivitas tambang, bukan memicu praktik yang lebih ramah lingkungan.
Penelitian terbaru ini dilakukan Amanda Adelina Harun dan Fenty U Puluhulawa dari UNG, serta Vanessa Veronica dari Vrije Universiteit Amsterdam.
Kajian ini telah diterbitkan di Jurnal Kajian Hukum dan Sosial, Justicia Islamica, Vol 23 No 1, Juni 2026 dengan judul: Aligning Mercury Governance With Livelihoods, Legal Frameworks, and Religious Norms: Evidence from Indonesia’s ASGM.
Masalah Kesehatan
Menurut peneliti, ancaman serius bagi kesehatan masyarakat karena paparan merkuri di area pertambangan rakyat telah memicu krisis kesehatan dan pencemaran lingkungan yang serius.
Studi ini memaparkan sejumlah temuan medis kritis: terdapat dampak neurologis secara persisten pada populasi yang terpapar, seperti tremor, ataksia, gangguan keseimbangan, hingga disartria.
Dampak pada sistem ginjal ditandai dengan munculnya proteinuria. Paparan ini juga memengaruhi sistem endokrin yang memicu disfungsi tiroid.



