Selat Sunda dan Selat Lombok, menurut Basar, memiliki kekayaan keanekaragaman laut. Di Selat Sunda terdapat Taman Wisata Alam Sangiang yang memiliki terumbu karang dan biota laut. Di Selat Lombok terdapat Kawasan Konservasi Nusa Penida dan Kepulauan Gili yang memiliki terumbu karang, penyu, lumba-lumba dan lainnya.

Proposal Penetapan TSS di Selat Sunda dan Selat Lombok telah didiskusikan dan disetujui pada pertemuan The 6th IMO Sub Committee on Navigation, Communications and Search and Rescue (NCSR) yang diselenggarakan di London pada bulan Januari yang lalu.
Selanjutnya, proposal ini akan diadopsi pada Pertemuan IMO Maritime Safety Committee (MSC) ke-101 yang akan diselenggarakan pada bulan Juni 2019 mendatang. TSS di Selat Sunda dan Selat Lombok mulai diimplementasikan pada tahun 2020, 1 tahun setelah diadopsi pada Sidang MSC.
Untuk itu, workshop ini diselenggarakan guna meningkatkan awareness dan memastikan kesiapan Indonesia dalam mengimplementasikan TSS di Selat Sunda dan Selat Lombok.
Sebelumnya Indonesia berkomitmen untuk melakukan persiapan yang diperlukan guna memastikan semua fasilitas dan infrastruktur pendukung serta Sumber Daya Manusia sudah siap sebelum tanggal pelaksanaan implementasi TSS.
Utusan Khusus Menteri Perhubungan untuk IMO, Dr Marsetio yang menjadi Keynote Speaker workshop mengatakan, sebagai poros maritim dunia, Indonesia harus berperan terhadap peningkatan keselamatan dan keamanan pelayaran serta perlindungan lingkungan maritim. Penetapan TSS di Selat Sunda dan Selat Lombok harus didukung oleh semua pihak agar dapat berjalan dengan baik dan lancar, serta mampu mengangkat nama Indonesia di kancah pergaulan internasional khususnya di sektor maritim dunia.





Komentar tentang post