Penelitian tersebut melibatkan 40 pasien rawat jalan yang menjalani pemeriksaan di poliklinik penyakit dalam dan poliklinik mata. Berdasarkan data penelitian, 20 pasien (50%) terdiagnosis diabetes melitus tipe 2, sementara 19 pasien (47,5%) mengalami katarak.
Analisis statistik menggunakan uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kedua kondisi tersebut. Nilai p-value sebesar 0,027 menunjukkan bahwa hubungan antara diabetes melitus tipe 2 dan kejadian katarak tidak terjadi secara kebetulan.
Penelitian menemukan nilai Odds Ratio sebesar 4,333, yang berarti bahwa pasien dengan diabetes melitus tipe 2 memiliki risiko sekitar 4,3 kali lebih besar untuk mengalami katarak dibandingkan dengan pasien yang tidak menderita diabetes.
Temuan ini memperkuat berbagai penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa diabetes merupakan salah satu faktor risiko penting dalam perkembangan katarak.
Selain diabetes, beberapa faktor lain juga dapat mempercepat terjadinya katarak. Usia merupakan faktor risiko yang paling dominan. Pada usia lanjut, kemampuan tubuh untuk melindungi jaringan mata dari kerusakan oksidatif akan menurun. Akibatnya, protein pada lensa mata lebih mudah mengalami kerusakan.
Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa mayoritas penderita katarak berusia di atas 60 tahun. Hal ini sejalan dengan berbagai penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa risiko katarak meningkat seiring bertambahnya usia.




