Menurut Rusli, studi yang dilakukan terhadap 3.853 responden dengan rentang usia 15-60 tahun ke atas menunjukkan sebanyak 43,7 persen memilih tetap akan mudik meski menyadari akan memperparah potensi penyebaran Covid-19. Sementara 56,22 persen menjawab tidak akan mudik, termasuk di dalamnya 20,98 persen masih berencana untuk membatalkan mudik.
Hasil survei Persepsi Masyarakat terhadap Mobilitas dan Transportasi menunjukkan pergerakan mudik terbesar berasal dari Jawa Barat sebesar 22,94 persen, diikuti DKI Jakarta 18,14 persen, Jawa timur 10,55 persen, Jawa Tengah 10,02 persen, dan Banten 4,68 persen.
“Persentase pergerakan ini akan didominasi oleh masyarakat umum, mengingat pemerintah telah mengeluarkan regulasi melalui untuk melarang seluruh Aparatur Sipil Negara melakukan mudik lebaran,” katanya.
Sejalan dengan pergerakan mudik tersebut, peneliti Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI), Chotib Hasan mengatakan, arus balik juga dapat berpotensi menciptakan dampak terinfeksi Covid-19 yang lebih besar lagi jika tidak ada intervensi.
Tanpa intervensi, akan ada 1.059 orang dalam pemantauan (ODP) yang balik ke Jakarta. Namun, jika ada intervensi, angka tambahan ODP menjadi sedikit sekitar 205 orang. Intervensi ini dilakukan oleh pemerintah bisa berupa pelarangan orang melakukan mudik di daerah asal mudik, dan penutupan lokasi di daerah tujuan mudik.





Komentar tentang post