Saat ini tim masih terus melakukan penelitian dan mendeskripsikan jenis baru dari kelompok mamalia.
“Dengan penemuan ini, yang sesungguhnya dapat merefleksikan kekayaan hayati yang berasal dari kelompok fauna kecil atau mikroskopis yang belum terungkap, menjadi tantangan tersendiri bagi peneliti BRIN di masa depan,” katanya.
Peneliti lainnya, Esselstyn, mengatakan penemuan ini sangat menarik, walaupun terkadang membuat frustrasi. Biasanya, kami menemukan satu jenis baru pada satu waktu dan mendapatkan suatu sensasi yang luar biasa dari penemuan tersebut.
“Tetapi, dalam kasus ini menjadi luar biasa, karena selama beberapa tahun pertama, kami tidak dapat mengungkapkan berapa banyak spesies sebenarnya yang telah kita peroleh,” ujar Profesor dari Departemen Ilmu Biologi LSU tersebut.
Esselstyn menjelaskan, taksonomi berfungsi sebagai ilmu dasar dari begitu banyak penelitian biologi dan upaya konservasi.
“Ketika kita tidak mengetahui berapa banyak jenis yang ada atau di mana mereka hidup, kemampuan kita untuk memahami dan melestarikan kehidupan sangat terbatas. Sangat penting bagi kami untuk mendokumentasikan dan mengungkap keanekaragaman tersebut,” katanya.
Penemuan ini merupakan tonggak utama dalam penelitian Professor Jake Esselstyn. Esselstyn tertarik untuk menguji hipotesis secara ekologi dan evolusi yang mungkin dapat menjelaskan keragaman celurut di Indonesia.





Komentar tentang post