Pemanfaatan limbah lingkungan kulit jeruk nipis diharapkan dapat sebagai terapi adjuvant yang murah, efesien dan ramah lingkungan.
Maserasi Terbukti Paling Efektif
Dari ketiga metode yang diuji, metode maserasi terbukti paling unggul dalam menarik senyawa metabolik dari kulit jeruk nipis. Ekstrak maserasi mengandung enam senyawa aktif utama, yakni alkaloid, flavonoid, saponin, steroid, tanin, dan fenol.
Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan metode perendaman yang hanya menghasilkan empat senyawa, serta metode perasan yang menghasilkan tiga senyawa.
Analisis lanjutan menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) juga menunjukkan bahwa ekstrak maserasi memiliki jumlah senyawa terlarut paling banyak, ditandai dengan lima bercak senyawa aktif.
Temuan ini menegaskan bahwa proses maserasi memungkinkan pelarut organik menembus jaringan kulit jeruk secara lebih optimal.
Kaya Antioksidan dan Antibakteri
Senyawa-senyawa yang terkandung dalam kulit jeruk nipis diketahui memiliki aktivitas biologis yang penting.
Flavonoid dan fenol berperan sebagai antioksidan dan antiinflamasi, sementara saponin dan tanin dikenal memiliki kemampuan antibakteri dengan cara merusak membran sel bakteri.
Penelitian sebelumnya juga menunjukkan bahwa ekstrak kulit jeruk nipis mampu menekan pertumbuhan bakteri, memodulasi sistem imun, serta berpotensi mendukung terapi penyakit berbasis inflamasi dan infeksi.




