SAF mengintegrasikan empat dimensi keberlanjutan, yakni biofisik dan iklim, keanekaragaman hayati, sosial-ekonomi, serta tata kelola. Melalui pendekatan ini, kawasan budi daya udang dan area restorasi mangrove dirancang dalam satu lanskap tambak terpadu yang saling mendukung. Model tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas tambak, memperbaiki kualitas lingkungan, sekaligus mempertahankan fungsi mangrove sebagai habitat pesisir, pelindung pantai, dan penyerap karbon biru.
Ketua Tim, Prof. Djoko Santoso Abi Suroso dari ITB, mengatakan bahwa implementasi awal menunjukkan SAF memiliki potensi besar untuk diterapkan secara lebih luas.
“Program SMACA dan SECURE menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas tambak dapat berjalan seiring dengan pemulihan mangrove. Model ini dapat menjadi prototipe bagi pengembangan akuakultur berkelanjutan di berbagai daerah di Indonesia,” kata Prof. Djoko.
Hingga kini, implementasi SECURE di Berau telah melibatkan 22 pembudidaya yang mengelola sekitar 240 hektare tambak yang diintegrasikan dengan restorasi mangrove seluas 87 hektare. Melalui dukungan riset RIIM-KONEKSI, program SMACA terus menyempurnakan desain tambak, pengelolaan hidrologi, restorasi ekosistem, dan tata kelola kolaboratif guna meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga fungsi lingkungan.




