Menurut WALHI Gorontalo, masyarakat yang sejak dulu bergantung pada hutan justru menghadapi pembatasan akses. Penutupan badan sungai untuk jalan operasi perusahaan mengubah bentang alam dan memutus sumber penghidupan komunitas lokal.
Sosialisasi yang dilakukan perusahaan pun dianggap sarat manipulasi dan tidak mengedepankan prinsip Free, Prior, and Informed Consent (FPIC).
WALHI Gorontalo menelusuri sejumlah nama pengusaha nasional hingga pejabat tinggi negara tercatat sebagai pemilik manfaat, seperti Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono, Garibaldi Thohir (kakak kandung dari Erick Thohir, Menteri Pemuda dan Olahraga), keluarga Soeryadjaya, Albert Saputro (Presiden Direktur Merdeka Copper Gold). Selain itu, PT Provident Capital Partners, PT Saratoga Investama Sedaya dan PT Saratoga Sentra Bussiness.
Hal ini menguatkan dugaan bahwa proyek biomassa lebih mengabdi pada laba dan ekspor kayu pelet ketimbang menyelamatkan lingkungan.
Mitos energi hijau tidak boleh menipu kita, kata WALHI Gorontalo.
Ada mitos wood pellet adalah energi terbarukan yang ramah lingkungan, faktanya Wood pellet melepaskan lebih banyak CO2 daripada batubara per unit energi yang dihasilkan.
Mitos biomassa kayu bersifat carbon neutral, faktanya dibutuhkan 44-104 tahun bagi hutan untuk menyerap kembali CO2 setelah penebangan, carbon debt yang sangat panjang.




