Pulau Mataha menjadi salah satu lokasi dengan nilai tertinggi. Pulau yang tidak berpenghuni ini dinilai sangat ideal bagi penyu untuk bertelur karena minim polusi cahaya, aktivitas manusia, maupun hambatan fisik di pantai.
Namun demikian, ancaman seperti abrasi, kenaikan muka air laut, dan predator alami masih ditemukan di beberapa lokasi.
Di sisi lain, beberapa lokasi seperti kawasan padat penduduk di Pulau Derawan dan Balikukup menghadapi tekanan yang lebih tinggi akibat sampah, pencahayaan buatan, serta aktivitas manusia di pesisir yang dapat mengganggu penyu saat naik bertelur.

Konservasi Penyu
Kepala Balai Pengelolaan Kelautan Pontianak, Syarif Iwan Taruna Alkadrie menyebut pemanfaatan teknologi membantu menghasilkan data yang lebih akurat dan efisien untuk mendukung pengelolaan kawasan konservasi.
“Dengan dukungan teknologi memungkinkan pemantauan habitat dan populasi penyu dilakukan secara lebih luas dan detail, bahkan di area yang sulit dijangkau. Data ini sangat penting untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis ilmiah dalam pengelolaan kawasan konservasi,” katanya.
Melalui survei udara, tim berhasil memetakan habitat penyu di 12 lokasi. Citra udara resolusi tinggi memungkinkan peneliti mengidentifikasi penyu secara visual di perairan dangkal, padang lamun, dan area terumbu karang.



