Perkiraan PBB menunjukkan harga minyak telah naik sekitar 45 persen dan gas sebesar 55 persen sejak akhir Februari, dengan harga pupuk naik 35 persen. Inflasi regional dapat meningkat menjadi 4,6 persen pada tahun 2026, naik dari 3,5 persen pada tahun 2025.
Di beberapa negara, harga bahan bakar yang lebih tinggi telah mendorong kenaikan biaya transportasi, produksi, dan makanan, yang paling berdampak pada rumah tangga miskin.
Di Sri Lanka, di mana minyak bumi menyumbang sekitar seperempat dari total impor, pihak berwenang telah memperkenalkan penjatahan bahan bakar dan mengurangi acara publik untuk menghemat persediaan. Sekolah telah beralih ke minggu kerja empat hari, sementara operasi sektor publik telah dikurangi.
Di Pakistan, harga bahan bakar dan bahan makanan melonjak dalam semalam, dan antrean panjang dilaporkan di SPBU. Pihak berwenang telah memperkenalkan langkah-langkah penghematan bahan bakar, termasuk minggu kerja empat hari, penutupan sekolah, dan kebijakan bekerja dari rumah.
Myanmar yang dilanda krisis juga menghadapi tekanan akut. Kelangkaan bahan bakar telah menyebabkan penjatahan ketat, mengganggu transportasi, bisnis, dan operasi kemanusiaan.
“Gangguan ini menambah tekanan baru pada perekonomian Myanmar yang sudah berada di bawah tekanan,” kata Gwyn Lewis, Koordinator Kemanusiaan dan Resident PBB sementara. “Harga naik, barang-barang kebutuhan pokok semakin sulit ditemukan, dan daya beli keluarga terus menurun.”




