Sahri mengatakan fenomena ini adalah pengingat betapa dinamisnya laut Indonesia. Di balik keindahannya, ”terdapat sistem alam yang kompleks dan masih menyimpan banyak misteri untuk diungkap,” ujar Sahri.
Sementara itu, Guru Besar di Departemen Oseanografi, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro, Prof. Anindya Wirasatriya sekaligus peneliti yang memimpin riset tersebut menjelaskan EUE itu terjadi.
“Peristiwa ini berlangsung bersamaan dengan pasang purnama (spring tide) yang memicu pergerakan massa air secara vertikal dengan kecepatan sekitar 0,012 meter per detik,” ujar Anindya.
Selain suhu yang anjlok, salinitas air laut juga meningkat dari 30 PSU (Practical Salinity Units atau satuan ukuran salinitas (kadar garam) menjadi 36 PSU.
Hal ini menunjukkan bahwa “air yang naik berasal dari lapisan laut yang lebih dalam, di mana suhu lebih rendah dan kadar garam lebih tinggi,” ujar Anindya.
Peristiwa Upwelling Ekstrem tersebut berlangsung setidaknya selama 1-4 hari dan dapat terjadi dua kali dalam sehari mengikuti pasang surut semi-diurnal, menjadikannya fenomena langka namun penting untuk dipahami karena berdampak besar pada ekosistem laut setempat.




