Biasanya, kata Sahri, penurunan suhu akibat upwelling di daerah tropis hanya sekitar ”dua derajat celcius”, tetapi di Alor ”kami mencatat penurunan hingga sepuluh derajat hanya dalam waktu singkat sekitar satu jam,” ujar Sahri kepada tim Humas BRIN, Jumat (30/10).
Fenomena ini berdampak langsung pada kehidupan laut. Penurunan suhu ekstrem menyebabkan ikan-ikan tropis mengalami kejutan termal hingga pingsan dan mudah ditangkap oleh warga sekitar.
“Kondisi tersebut juga menarik perhatian lumba-lumba dan mamalia laut lainnya yang memanfaatkan momen tersebut untuk berburu ikan,” ujar Sahri.
Dalam penelitian terkait fenomena tersebut, BRIN berperan aktif terutama dalam mengamati perilaku dan aspek ekologi dari mamalia laut selama peristiwa terjadi.
Pengamatan dilakukan bersama tim dari Universitas Diponegoro, Universitas Tribuana Kalabahi, Universitas Sriwijaya, Konservasi Indonesia, serta mitra internasional dari University of Maryland, Tohoku University, University of Tsukuba, dan Srinakharinwirot University Thailand.
“Kami fokus memahami hubungan antara dinamika oseanografi ekstrem dan respons biologis lumba-lumba di wilayah tersebut,” kata Sahri.
Melalui kolaborasi lintas institusi, termasuk dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Alor, dan DKP Provinsi NTT, para peneliti berharap hasil riset EUE ini tidak hanya memberikan kontribusi ilmiah terhadap ilmu oseanografi saja, tetapi juga menjadi dasar pengelolaan sumber daya laut dan ekowisata berkelanjutan di Kabupaten Alor dan sekitarnya.




