Darilaut – Peristiwa Upwelling Ekstrem (Extreme Upwelling Event) di Laut Alor dapat menjadi daya tarik wisata ilmiah berbasis konservasi.
Selain dampak ekologis, fenomena laut yang tak biasa terjadi di perairan Selat Mulut Kumbang, Alor Kecil, Nusa Tenggara Timur tersebut, memiliki potensi ekonomi dan wisata yang besar.
Kejadian langka ini dapat dikembangkan untuk wisatawan yang ingin menyaksikan fenomena alam luar biasa tanpa merusak lingkungan, sehingga dapat berkelanjutan.
“Masyarakat dapat mengamati lumba-lumba dari bibir pantai atau tubir, tanpa harus menggunakan perahu yang dapat mengganggu tingkah laku biota tersebut,” kata Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Sistem Biota Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Achmad Sahri.
Dalam waktu kurang dari satu jam, suhu air laut di kawasan tropis tersebut tiba-tiba turun dari rata-rata sekitar 28°C mencapai titik minimum sampai 12°C.
Peristiwa ekstrem ini dikenal sebagai Extreme Upwelling Event (EUE). Fenomena ini menjadi kejadian pertama yang tercatat di dunia, dan kini menjadi fokus penelitian para ahli oseanografi di Indonesia, terutama dari Universitas Diponegoro dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama mitra lainnya.
Menurut Sahri, EUE merupakan peristiwa naiknya massa air laut yang sangat dingin dari lapisan dalam menuju permukaan secara tiba-tiba.




