Namun, menurut Zach, ekosistem tersebut terus menghadapi berbagai ancaman, mulai dari kerusakan akibat aktivitas manusia, pencemaran sampah plastik, hingga peningkatan suhu laut yang memicu coral bleaching.
Bersama tim peneliti BRIN, Zach mengembangkan metode yang dapat mengukur berbagai fungsi ekosistem, seperti produksi karbonat, herbivori, predasi, dan siklus nutrien, sehingga keberhasilan restorasi dapat dievaluasi secara lebih komprehensif.
Hasil awal penelitian menunjukkan bahwa berbagai fungsi ekosistem mulai pulih meski dengan laju yang berbeda, sehingga diperlukan pemantauan jangka panjang untuk memastikan efektivitas program restorasi.
Selain itu, Zach mendorong agar restorasi tidak hanya menggunakan spesies karang yang tumbuh cepat, tetapi juga mempertimbangkan spesies yang lebih tahan terhadap peningkatan suhu laut agar ekosistem hasil restorasi memiliki daya tahan lebih baik terhadap dampak perubahan iklim.
Kepala PRIMA BRIN, Albertus Sulaiman, mengatakan, keberhasilan restorasi tidak cukup diukur dari banyaknya karang yang tumbuh.
“Selama ini keberhasilan restorasi sering kali diukur dari pertumbuhan atau tutupan karang. Padahal, yang tidak kalah penting adalah memastikan fungsi ekologinya juga pulih,” ujarnya.
Dengan begitu, kata Albertus, ekosistem terumbu karang dapat kembali memberikan manfaat bagi keanekaragaman hayati maupun masyarakat pesisir.




