Selain itu, Gelombang Rossby Ekuatorial turut berpotensi mempengaruhi kondisi atmosfer di Sumatra Selatan, Lampung, Jawa bagian barat, Maluku, Maluku Utara, Kalimantan Utara, Papua Selatan, NTT, dan Sulawesi Tenggara, sehingga beberapa wilayah tersebut tetap berpeluang mengalami pertumbuhan awan hujan secara lokal.
Tidak hanya MJO dan gelombang atmosfer, sirkulasi siklonik juga diprediksi aktif di sekitar pesisir Sumatra Selatan dan pesisir barat Sumatra, yang berpotensi membentuk daerah perlambatan dan belokan angin di wilayah sekitarnya.
Perlambatan, pertemuan, dan belokan angin juga diprakirakan terbentuk di Sumatra Barat, Riau, Sulawesi Selatan, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Maluku Utara, dan Papua Barat. Faktor-faktor tersebut dapat meningkatkan pengangkatan massa udara dan mendukung pertumbuhan awan hujan, sehingga masih menyebabkan potensi hujan di sejumlah wilayah meskipun Indonesia tengah berada pada periode musim kemarau.
Berdasarkan analisis BMKG, indikator iklim global terkini, kondisi El Niño di Samudra Pasifik masih terpantau bertahan. Hal ini ditunjukkan oleh indeks Niño 3.4 sebesar +1,24 dan nilai Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -23,3.
Kondisi tersebut secara umum berkontribusi terhadap berkurangnya potensi curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia. Sejalan dengan kondisi tersebut, 48,9% wilayah Indonesia atau sebanyak 342 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau.




