Hasil pemantauan Hari Tanpa Hujan (HTH) juga menunjukkan adanya 329 titik pengamatan atau sekitar 7% wilayah pengamatan yang mengalami HTH kategori sangat panjang (31–60 hari).
Selain itu, suhu udara maksimum pada periode 1–5 Juli 2026 masih tercatat lebih dari 35°C di sebagian wilayah Indonesia, antara lain di Sumatra Utara, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jawa Tengah, Banten, dan Sulawesi Tengah.
Meskipun musim kemarau semakin meluas dan potensi hujan cenderung berkurang, hujan dengan intensitas ringan hingga lebat masih terjadi secara lokal di beberapa wilayah Indonesia.
Pada awal Juli 2026, curah hujan tertinggi tercatat di Sumatra Barat (156 mm/hari), Sulawesi Utara (151 mm/hari), Sumatra Utara (90 mm/hari), Kalimantan Utara (84 mm/hari), dan Maluku Utara (57 mm/hari).
Hujan yang umumnya terjadi di wilayah Indonesia bagian utara dan sekitar ekuator tersebut dipengaruhi oleh aktivitas beberapa dinamika atmosfer, seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), yang secara spasial aktif di sebagian Sumatra; Gelombang Kelvin di sebagian Kalimantan dan Papua; serta Gelombang Rossby Ekuatorial di sebagian Sulawesi.
Kondisi atmosfer lokal di sejumlah wilayah masih menunjukkan labilitas yang cukup kuat sehingga mendukung proses konveksi dan pembentukan awan hujan. Oleh karena itu, meskipun tren musim kemarau semakin dominan, potensi hujan masih perlu diwaspadai di sebagian wilayah Indonesia.




