Sebagai negara kepulauan, Indonesia menghadapi berbagai ancaman bencana alam, mulai dari cuaca ekstrem dan perubahan iklim hingga gempa bumi dan tsunami.
Oleh karena itu, BMKG tidak hanya berperan menyediakan informasi dan peringatan dini, tetapi juga memastikan informasi tersebut dapat menjangkau masyarakat secara cepat, tepat, akurat, dan mudah dipahami, termasuk bagi masyarakat yang berada di wilayah terpencil dan rentan.
“Kami berkomitmen untuk memastikan informasi yang andal dan tepat waktu dapat menjangkau mereka yang paling membutuhkan. Karena itu, Indonesia mendukung penuh inisiatif Early Warnings for All yang dicanangkan WMO,” kata Faisal.
Dalam kesempatan tersebut, Presiden WMO beserta delegasi juga meninjau fasilitas Multi Hazard Early Warning System (MHEWS) BMKG, termasuk ruang operasional Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS), Meteorology Early Warning System (MEWS), dan Climatology Early Warning System (CEWS).
Indonesia turut berkontribusi dalam program-program strategis WMO. Salah satunya melalui keterlibatan sebagai Systematic Observations Financing Facility (SOFF) Peer Advisor yang mendukung penguatan sistem observasi meteorologi di Timor-Leste dan Maladewa bersama WMO dan Finnish Meteorological Institute (FMI).




