Menurut Imran, wilayah pesisir dan laut Kalimantan Timur, khususnya Kabupaten Berau, merupakan bagian penting dari Bentang Alam Sulu Sulawesi yang memiliki peran besar dalam menjaga masa depan segitiga karang dunia.

Kawasan ini berkontribusi penting dalam menghadapi perubahan iklim, memperkuat ketahanan ekoregion pesisir, dan melestarikan ekosistem laut yang menjadi sumber penghidupan masyarakat pesisir.
KKP3K KDPS ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 87 Tahun 2016 dengan luas kawasan mencapai 285.548,95 hektare.
Keanekaragaman hayati kawasan ini menempati posisi terbesar kedua di Indonesia, dengan ekosistem terumbu karang, padang lamun, hutan mangrove, hingga danau air asin yang menjadi habitat berbagai spesies langka dan dilindungi.
Selain fungsi ekologis, kawasan konservasi ini juga memiliki kontribusi signifikan terhadap kehidupan sosial-ekonomi masyarakat pesisir. Nelayan tradisional di delapan kecamatan di Kabupaten Berau menjadikan kawasan ini sebagai sumber penghidupan utama.
Hasil perikanan dari KKKP3K KDPS berperan dalam penyediaan pangan sehat dan bergizi tidak hanya bagi Kabupaten Berau, tetapi juga untuk wilayah sekitar di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.
Di sisi lain, daya tarik wisata bahari kawasan ini telah mendorong perkembangan pariwisata daerah. Pada tahun 2024, jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Berau tercatat mencapai 557.214 orang, yang menegaskan potensi ekonomi besar dari keberlanjutan ekosistem pesisir dan laut.




