Kepala Seksi Operasi, PLP Priok, Capt Pujo Kurnianto mengatakan, dari tiga kapal tersebut yang memegang peran paling krusial atau boleh dikatakan paling berat adalah KN Sarotama. Kapal patroli ini akan menggelar oil boom untuk menanggulangi tumpahan minyak. Ini memerlukan banyak waktu dan kru dalam keterlibatannya.
KN Sarotama dinakhodai oleh Capt Desi Susanti. Kapal ini tipe MDPS (Marine Disaster Prevention Ship) yang ditunjang dengan peralatan seperti Fire Gun, Oil Boom Recovery, Long Range Identification and Tracking serta lainnya.
Di KN Sarotama disiapkan personil 20 sampai 30 kru. Personil akan terlibat dalam demonstrasi penanggulangan tumpahan minyak pada Regional Marpolex 2019 di Davao.
KN Kalawai akan berperan sebagai pemadaman kebakaran, sedangkan KN Gandiwa berperan sebagai kapal SAR atau penyelamatan korban yang jatuh ke laut.
Tujuan latihan Marpolex ini untuk mengetahui kesiapsiagaan SDM kapal patroli KPLP dalam menanggulangi pencemaran, pemadaman kebakaran dan pertolongan kepada korban jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Selain itu, persiapan dan kelengkapan alat-alat yang dimiliki kapal kapal patroli KPLP dalam menunjang kegiatan maupun kejadian yang sebenarnya, jika terjadi kecelakaan tumpahan minyak di laut.
Penunjukan tempat latihan di Perairan Pelabuhan Bitung adalah untuk melihat potensi Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jenderal Perhubungan Laut yang ada di Manado dan sekitarnya dalam penanganan musibah pencemaran minyak di laut.





Komentar tentang post