Gangguan perdagangan global di selat tersebut—yang dipicu oleh serangan AS dan Israel terhadap Iran serta serangan balasan Teheran di berbagai negara Teluk dan Yordania—telah menyebabkan ekspor komoditas utama seperti minyak, gas, dan bahan baku pupuk merosot tajam, sekaligus memicu kenaikan harga.
Evakuasi Ditangguhkan
Perang yang masih berlangsung juga memaksa penangguhan rencana evakuasi yang dikoordinasikan oleh IMO bagi para pelaut yang terjebak di dalam atau di dekat Selat Hormuz. Diperkirakan masih ada sekitar 6.000 awak kapal dan 500 kapal yang terjebak—hampir enam bulan sejak permusuhan dimulai—sementara baru sekitar 2.900 orang yang berhasil dievakuasi hingga saat ini.
Berdasarkan data pemantauan krisis Hormuz milik badan PBB tersebut, tercatat ada 65 insiden terkonfirmasi dan 17 pelaut tewas sejak awal Maret.
Dalam pernyataannya, pimpinan IMO juga menyerukan “pembebasan segera dan tanpa syarat bagi seluruh pelaut” yang ditawan akibat serangan pembajakan di wilayah Laut Merah dan Teluk Aden.
“Menjamin keselamatan pelaut merupakan kewajiban mendasar menurut hukum internasional sekaligus tanggung jawab bersama masyarakat global,” ujar Dominguez.




