Hal ini mempengaruhi sekitar 3,2 miliar orang – 40 persen dari seluruh dunia – dan memberikan beban yang tidak proporsional pada perempuan dan masyarakat miskin.
Hari Lingkungan Hidup Sedunia membantu menggambarkan hilangnya ekosistem darat sebagai krisis global. Seperti yang dikatakan Andersen: “Degradasi lahan, penggurunan dan kekeringan bukan hanya permasalahan kekeringan di suatu negara. Itu adalah masalah global,” katanya.
Namun yang terpenting adalah tentang solusi. Mulai dari pertemuan tingkat tinggi hingga kunjungan lapangan ke sekolah, para ahli, pendidik, dan masyarakat menekankan betapa tindakan restorasi yang sederhana dapat mengubah lanskap yang dirusak oleh perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, polusi, dan pemicu degradasi lainnya.
Ini adalah pesan yang bergema secara global. Postingan media sosial Hari Lingkungan Hidup Sedunia menjangkau lebih dari 200 juta orang dan perayaan tersebut menjadi hashtag trending teratas di X, sebelumnya Twitter. Sekitar 27 juta orang melihat konten video terkait.
Kedua, Meningkatnya Ancaman Iklim
Perubahan iklim dan degradasi lahan terkunci dalam lingkaran umpan balik yang berbahaya, dan saling mempengaruhi satu sama lain. Itulah sebabnya krisis iklim menjadi pusat perhatian pada tanggal 5 Juni.




