Darilaut – Para periset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti pentingnya strategi mitigasi bencana yang lebih komprehensif, kolaboratif, dan berbasis sains menyusul kejadian siklon tropis yang menimbulkan kerusakan dan korban jiwa besar di beberapa wilayah Indonesia. Dalam SERI WEBINAR ORKM bertajuk “Ketika Indonesia Diguncang Siklon Tropis: Pembelajaran Bersama dan Kesiapsiagaan” pada Selasa (09/12), dua periset BRINErma Yulihasti dan Yanu Endar Prasetyo menyampaikan kritik, catatan, serta arah pemikiran strategis yang perlu dibangun bangsa ini.
Periset PR Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihasti, menekankan perlunya strategi mitigasi yang dibangun di atas kolaborasi lintas lembaga. Ia mengusulkan pembentukan Pusat Studi Cuaca Ekstrem Indonesia yang melibatkan BRIN, universitas, serta lembaga riset dalam dan luar negeri.
“Peran tiga badan orkestrator sangat penting. BRIN membangun sains dan teknologi untuk menghasilkan data-data prediksi yang berkolaborasi dengan kampus,” ujar Erma.
Erma menilai bahwa mitigasi siklon membutuhkan integrasi peran lembaga secara jelas. BMKG, katanya, harus menyediakan informasi prediksi yang dapat disampaikan ke masyarakat secara cepat dan akurat. Sementara BNPB berperan dalam membangun sistem peringatan dini yang memastikan informasi prediktif sampai ke daerah dan masyarakat di wilayah rawan.




