“Dulu, AI bisa ditipu manusia. Tapi sekarang, AI-lah yang menipu manusia,” ujar Rhenald.
Polarisasi antara media arus utama dan media sosial makin tajam. Media konvensional bergantung pada iklan dan regulasi, sementara media sosial bergerak liar, cepat, dan emosional—sering kali tanpa verifikasi, kata Rhenald.
Sikap Generasi Z
Dalam konteks ketenagakerjaan, Rhenald menyoroti perubahan sikap Generasi Z yang semakin enggan bekerja kantoran dan menolak struktur kerja formal. Fenomena ini dikenal sebagai “conscious unbossing”—keengganan generasi muda untuk menjadi manajer atau berada dalam hierarki kerja konvensional.
Rhenald merujuk sejumlah studi global yang menunjukkan kecenderungan tersebut bukan sekadar tren sesaat. Lembaga riset Robert Walters, misalnya, mencatat 52 persen Gen Z tidak memiliki keinginan untuk memegang posisi manajemen menengah, sementara 69 persen menilai peran middle management terlalu stres dengan imbalan yang tidak sepadan. Bahkan, 72 persen Gen Z lebih memilih jalur karier sebagai individual contributor dibanding mengelola orang lain.
“Anak muda hari ini melihat aset bukan kantor atau jabatan, tapi uang dan fleksibilitas. Mereka tidak mau kerja formal, tidak mau punya bos,” kata Rhenald.
Perubahan tersebut memaksa perusahaan melakukan antisipasi serius. Otomatisasi dan robotisasi menjadi keniscayaan, bukan pilihan. Industri padat karya berisiko tertekan, sementara sektor-sektor yang sebelumnya dianggap sekunder justru menunjukkan pertumbuhan.




