Darilaut – Pengetahuan mengenai ilmu astronomi telah memiliki sejarah yang panjang di Indonesia dan memiliki relasi yang kuat dengan budaya masyarakat.
Ilmu Astronomi melalui pendekatan budaya dan kearifan lokal ini disebut etnoastronomi.
Mengutip dari Itb.ac.id, dosen Astronomi FMIPA ITB, Dr Hakim Luthfi Malasan, mengatakan, banyak bukti yang menunjukkan bahwa jauh sebelum sains dikenal di Indonesia, mereka telah memiliki wawasan tentang benda-benda angkasa, sistem kalender untuk sistem bertani, dan navigasi pelayaran.
Salah satunya, kata Hakim, situs Candi Ceto di Jawa Tengah yang dianggap berkaitan erat dengan suku Inka Maya dan memiliki ruangan semacam observatorium kuno di dalamnya.
Hal ini disampaikan Hakim dalam kegiatan wicara Karsa Loka Vol. 009 pada Jumat (16/7) yang diselenggarakan LPPM ITB dan Design Ethnography Lab. FSRD ITB secara virtual.
Presentasinya bertajuk “Edukasi Astronomi kepada Pegiat Pendidikan melalui Pendekatan Budaya dan Kearifan lokal”.
Kearifan lokal terkait astronomi memiliki potensi yang baik untuk dikembangkan pada era sains modern. Salah satunya melalui edukasi di sekolah.
Menurut Hakim, guru dan pendidik memiliki peran yang penting dalam menanggapi tren generasi muda yang juga mulai menggandrungi ilmu tersebut.
Di sisi lain, pembelajaran ilmu astronomi sering terhambat karena guru kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah, investasi fasilitas penunjang yang mahal, serta tidak adanya kurikulum spesifik yang secara khusus membahas astronomi.
“Situasi ini membuat guru kesulitan dalam mengambil posisi untuk mengajarkan astronomi kepada siswanya,” ujar Hakim seperti dikutip dari Itb.ac.id.
Berangkat dari keresahan para pegiat pendidikan, Hakim dan tim mengembangkan sebuah program berdasarkan panduan IAU-Network for Astronomy School Education (NASE).
Melalui beberapa kuliah, workshop, dan ekskursi, NASE mengajak guru-guru sekolah untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan mengajar ilmu astronomi.
Selain itu, kata Hakim, workshop NASE juga memberikan fasilitas untuk membuat alat-alat peraga sederhana demi menunjang pengajaran sehingga dapat meningkatkan minat belajar astronomi sejak dini.
Bukan hanya mendengar, guru juga diajak untuk mempraktikkan dan memeragakan alat yang mereka buat.
