“Pada 1980-1990, BATAN melakukan percobaan penambangan uranium dan pengolahan yang menghasilkan yellow cake. Kemudian pada 1991 dilakukan feasility study, namun eksplorasinya dihentikan pada 2021 karena tidak ada pendanaan,” ujarnya.
Metode dan peralatan yang digunakan dalam tahapan eksplorasi dengan menggunakan metode geologi, radiometri, sampling geokimia.
Selanjutnya, ada sampling stream sediment, sampling mineral berat, survei geofisika, geolistrik, pengeboran, logging dan terakhir adalah estimasi sumber daya uranium.
Ngadenin mengatakan alat yang digunakan untuk kegiatan eksplorasi pada 1970 hingga 2010 adalah scintillometer SPP 2NF. Sementara itu, sejak 2011 digunakan alat Gamma-ray spectrometer RS-125.
”Kami menggunakan Gamma-ray spectrometer RS-125 karena alat ini cukup canggih. Dengan alat ini kami dapat membedakan kandungan uranium, torium, dan kalium dalam batuan yang terdeteksi,” kata Ngadenin.
Menurut Ngadenin, kegiatan eksplorasi di Indonesia telah menemukan sejumlah mineralisasi uranium di berbagai wilayah, seperti di Aceh, Sibolga Sumatera Utara, Lampung, Kalan, Ella Hilir, Nanga Bulit Kalimantan Barat, Mentawa dan Darab Kalimantan Tengah.
“Selanjutnya di Kawat Kalimantan Timur, serta Mamuju Sulawesi Barat. Berdasarkan hasil eksplorasi hingga 2018, total sumber daya uranium yang berhasil diidentifikasi diperkirakan mencapai sekitar 81.090 ton,” ujarnya.




