Pada tanggal 29 Januari, komet akan terlihat dua kali, yakni saat tengah malam dan pada pukul 23.00 waktu setempat. Pada tanggal 30 Januari, komet akan terbit pada pukul 21.00 waktu setempat dari arah Utara dekat konstelasi Draco.
Sedangkan, pada tanggal 31 Januari, komet akan terbit pada pukul 19.00 waktu setempat dari arah Utara dekat konstelasi Camelopardalis.
Hingga tanggal 30 Januari, komet dapat disaksikan hingga pukul 05.30 waktu setempat di arah Utara.
Sementara pada 31 Januari, komet terbenam pukul 04.00 waktu setempat dan waktu terbenam komet akan lebih cepat setiap harinya.
Sedangkan, tanggal 1 Februari, ketampakan awal komet selalu terjadi setelah Matahari terbenam dikarenakan waktu terbit komet terjadi sebelum Matahari terbenam.
“Memang agak berbeda dengan narasi yang beredar, utamanya terkait dengan periode komet yang diduga terakhir kali muncul saat zaman neanderthal (260 ribu tahun silam),” ujar Andi.
“Poin utamanya adalah, komet ini tidak dapat ditentukan periodenya meskipun gerak harian (daily motion)-nya dapat ditentukan. hal ini karena bentuk orbit yang hiperbola sehingga terdapat dua titik lenyap yang letaknya berada di jarak tak berhingga.”
Andi mengatakan gerak harian komet ini sekitar 1/74 detik busur per hari. Kemungkinan angka 260.000 tahun ini diperoleh dari 1.296.000 detik busur (360°) dibagi dengan 1/74 detik busur per hari sehingga diperoleh 96 juta hari atau setara 260.000 tahun.





Komentar tentang post