“Kondisi tersebut menjadi indikator bahwa ekosistem telah pulih dan layak dikembangkan melalui sistem silvofishery yang tetap menjaga kelestarian mangrove,” kata Alin seperti dikutip dari Brin.go.id, Jumat (12/6).
Riset yang dilakukan tim peneliti berfokus mengkaji hubungan antara kondisi mangrove, keberadaan gastropoda (siput laut), dan kepiting bakau (Scylla spp.) pada tiga tipe substrat berbeda, yaitu lumpur, pasir, dan campuran lumpur-pasir.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa substrat berlumpur memiliki kepadatan gastropoda tertinggi mencapai 7,20 individu per meter persegi, jauh lebih tinggi dibandingkan substrat berpasir yang hanya 2,36 individu per meter persegi.
Tim peneliti juga menemukan tujuh spesies gastropoda yang hidup di kawasan tersebut. Dua spesies yang paling dominan adalah Cassidula aurisfelis dan Cassidula nucleus. Keberadaan gastropoda menjadi indikator penting karena organisme ini berperan dalam rantai makanan sekaligus mendukung keberadaan kepiting bakau yang memiliki nilai ekonomi tinggi bagi masyarakat pesisir.
Menurut Alin gastropoda merupakan salah satu komponen penting dalam rantai makanan di ekosistem mangrove. Ketika populasinya terjaga, maka peluang keberhasilan budidaya kepiting bakau melalui sistem silvofishery juga semakin besar. Hal tersebut menunjukkan bahwa tingginya kelimpahan gastropoda di kawasan mangrove yang sehat menunjukkan bahwa ekosistem mampu menyediakan sumber makanan alami yang mendukung kehidupan kepiting bakau.




