Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa kondisi kualitas air di kawasan mangrove masih sangat mendukung kehidupan biota. Suhu perairan berkisar 26–29°C, salinitas 25–31 ppt, dan pH 7,6–8,0 yang masih berada dalam kisaran optimal untuk pertumbuhan mangrove, gastropoda, dan kepiting bakau.
“Sistem silvofishery menjadi solusi penting dalam menjaga keseimbangan ekologi sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat pesisir,” ujarnya.
”Sistem ini menggabungkan konservasi mangrove dengan budidaya perikanan, khususnya kepiting bakau, tanpa merusak ekosistem utama. Silvofishery dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan hutan mangrove.”
Alin juga menegaskan pentingnya keterlibatan masyarakat lokal dalam pengelolaan kawasan mangrove secara berkelanjutan. Rehabilitasi mangrove yang dilakukan di Kaliwlingi terbukti tidak hanya mampu menahan abrasi pantai, tetapi juga memulihkan habitat biota pesisir dan membuka peluang ekonomi baru berbasis blue economy.
Alin mengatakan rehabilitasi mangrove tidak hanya berfungsi sebagai upaya perlindungan pantai dari abrasi, tetapi juga dapat menciptakan habitat yang produktif bagi biota bernilai ekonomi serta membuka peluang usaha berkelanjutan bagi masyarakat pesisir.
Dengan keberhasilan rehabilitasi selama satu dekade, kawasan mangrove Kaliwlingi dinilai berpotensi menjadi model pengembangan silvofishery nasional untuk mendukung konservasi pesisir dan ketahanan ekonomi masyarakat di wilayah pantai Indonesia, kata Alin.




