“Banyak hal yang tidak senilai antara demokrasi yang sifat partipasinya tinggi dengan kualitas hasil demokrasi,” kata Funco.
UNG mengambil langkah bekerja sama dengan Bawaslu dan KPU Provinsi Gorontalo tentang program MBKM pemilu bagi mahasiswa yang telah dilaksanakan Februari 2024.
Program tersebut menurut Menurut Bawaslu tergolong sukses karena telah mensuport dan mendorong kinerja mereka dalam meningkatkan partisipasi pemilu 2024.
Funco menjelaskan telah melakukan riset dan pendekatan stage pemilu dan menemukan terdapat empat hal yang menjadi disrupsi demokrasi lokal.
Antara lain adalah digitalisasi, terutama dengan adanya buzzer di media sosial membuat partai politik mulai tidak berfungsi dengan seharusnya.
Identitas partai politik dinilai menjadi sangat cair dan mulai menurun legitimasinya di masyarakat, kata Funco.
Selain itu, adalah milenial disruption, melihat angka pemilih milenial berada di 60% membuat nama-nama besar khususnya di Gorontalo tumbang.
Funco mengatakan bahwa penting bagi partai-partai untuk bertransformasi menjadi versi milenial, karena ketika tidak senilai dengan karakter dan keinginan milenial maka bisa berujung tidak terpilih.
Faktor lain, menurut Funco, adalah pandemic disruption dan regulasi disruption.
“Jangan sampai kepala daerah kita ini adalah bayi-bayi tabung. Karena papanya atau omnya kaya tiba-tiba mendaftar, banyak duit, langsung jadi,” ujar Funco.




