Handoko menjelaskan bahwa BRIN mendorong dan mendukung pengembangan satelit nano lainnya dari pihak industri maupun universitas, dengan berbagai kebutuhan di antaranya seperti komunikasi radio dan internet of things (IoT), bahkan penginderaan jauh.
Proyek SS-1 diinisiasi oleh teknisi muda Indonesia dari Surya University yaitu Hery Steven Mindarno, Setra Yoman Prahyang, M. Zulfa Dhiyaulfaq, Suhandinata, Afiq Herdika Sulistya, Roberto Gunawan, dan Correy Ananta Adhilaksma.
Proyek kolaborasi dengan Organisasi Radio Amatir Indonesia (ORARI) ini didukung penuh oleh BRIN melalui Pusat Riset Teknologi Satelit (dahulunya disebut Pusat Teknologi Satelit LAPAN) berupa bimbingan ahli satelit dimulai dari tahap desain, manufaktur, perangkaian, hingga pengujian satelit.
Selanjutnya juga dukungan kolaborasi multi-pihak bersama PT Pasifik Satelit Nusantara, PT Pudak Scientific, serta Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo).
SS-1 merupakan satelt nano atau cubesat dengan dimensi 10 x 10 x 11,35 cm, Bobot beratnya sebesar 1 hingga 1,3 kg.
Setelah berhasil dilepaskan, SS-1 akan beroperasi di ketinggian 400-420 km di atas permukaan Bumi dengan sudut inklinasi 51,7 derajat.
Satelit nano tersebut memiliki misi utama berupa Automatic Package Radio System (APRS) untuk kebutuhan radio amatir dan juga dapat difungsikan untuk komunikasi dan deteksi kebencanaan.





Komentar tentang post