
Ada beberapa alternatif, untuk relokasi dan mencegah banjir. Sebelumnya, pada tahun 2020 ada upaya, namun harus ada kesiapan secara matang untuk hal tersebut.
Selain itu, menurut Ismail, yang perlu menjadi perhatian terkait bangunan penahan air yang telah dibangun dengan jarak sekitar 300 meter.
”Ini perlu mendapat tindak lanjut lebih dari pihak terkait,” ujar Ismail, seperti Balai Wilayah Sungai mengenai bangunan penahan air yang sudah di bangun, ke depan ditindaklanjuti lagi.
Hal ini untuk menjaga yang tidak kita inginkan, dan harus segera ada tindak lanjut.
Menurut Ismail, pemerintah siap membantu semua kekurangan yang dibutuhkan warga korban banjir. Salah satunya dengan menyediakan kebutuhan mendesak seperti, makanan siap saji.
Personil yang tercatat turun ke lapangan dan membantu warga, antara lain , BPBD Kota Gorontalo, Dinas Sosial Kota Gorontalo, Baznas Kota Gorontalo, pemerintah kecamatan dan kelurahan, Tagana Kota Gorontalo, TNI dan Polri, serta sejumlah relawan.
Saat ini, upaya yang dilakukan BPBD, Dinas Sosial, TNI dan POLRI bersama relawan kebencanaan lainnya masih terus melaksanakan pendataan dan evakuasi korban yang terdampak akibat bencana banjir.
Selain di Kota Gorontalo, banjir dan longsor terjadi di Kecamatan Paguyaman Pantai Kabupaten Boalemo, serta banjir di Kabupaten Gorontalo dan Kabupaten Pohuwato. (Novita J. Kiraman)




