
“Kalau dibandingkan, penggunaan gas lebih efisien secara biaya dan lebih stabil dalam proses,” kata Sandi.
Selain itu, seluruh peralatan dirancang menggunakan material stainless steel tipe food grade, sehingga lebih higienis dan memenuhi standar keamanan pangan. Hal ini menjadi nilai tambah dibandingkan alat tradisional yang umumnya masih menggunakan bahan non-food grade.
Desain alat juga dibuat modular dan mudah dipindahkan, sehingga cocok untuk skala usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Dengan kapasitas maksimal sekitar 30 liter nira per proses, teknologi ini dinilai ideal untuk kelompok tani atau pelaku usaha kecil di daerah.
Sejak dikembangkan, teknologi ini telah mulai dimanfaatkan melalui kerja sama dengan mitra riset dan industri. Salah satunya adalah Sorghum Center Indonesia (SCI) yang menjadi lokasi uji coba dan pengembangan lebih lanjut.
Meski teknologi pengolahan sudah tersedia, Sandi menekankan tantangan utama justru berada pada aspek hulu, yakni keberlanjutan budidaya tanaman sorgum. Minat petani masih dipengaruhi oleh faktor ekonomi, terutama perbandingan harga dengan komoditas lain seperti jagung atau padi.
Menurut Sandi kalau harga jual belum kompetitif, petani akan berpikir ulang untuk menanam sorgum. Padahal dari sisi waktu panen, sebenarnya sama, sekitar tiga bulan.




