Tahap pertama menggunakan mesin roller press untuk mengekstraksi nira dari batang sorgum. Dari sekitar 100 kilogram batang, rata-rata dihasilkan hingga 20 liter nira, tergantung kondisi tanaman dan lingkungan.
Selanjutnya, nira diolah melalui dua pendekatan berbeda, yaitu menggunakan mesin vacuum evaporator dan open pan cooker.
Vacuum evaporator bekerja dalam sistem tertutup dengan suhu lebih rendah, sekitar 60–70 derajat celsius, sehingga menghasilkan gula cair sorgum atau sirup.
Sementara itu, open pan cooker digunakan untuk menghasilkan gula semut. Proses ini berlangsung pada suhu lebih tinggi, sekitar 90-100 derajat celsius, dengan waktu pemasakan lebih lama agar kadar air berkurang mencapai 5–6 persen dan terbentuk kristal gula.
“Untuk menghasilkan gula semut dari 15 liter nira, dibutuhkan waktu sekitar 3–5 jam, tergantung kandungan gula awalnya,” kata Sandi.
Setelah proses pemasakan, gula yang masih menggumpal dikeringkan kembali menggunakan oven dehydrator untuk menurunkan kadar air. Tahap akhir dilakukan dengan mesin penghancur (crusher) untuk menghasilkan butiran gula semut yang siap dikemas.
Efisien dan Higienis
Salah satu keunggulan utama teknologi ini adalah efisiensi energi. Jika produksi gula tradisional umumnya menggunakan kayu bakar, teknologi BRIN memanfaatkan gas sebagai sumber panas yang dinilai lebih hemat dan mudah dikontrol.




