Darilaut – Mi berbasis sorgum cenderung mudah patah, berwarna kurang menarik, serta sulit membentuk untaian panjang.
Kondisi ini menuntut adanya penyesuaian, baik dari sisi peralatan maupun formulasi, agar mi sorgum memiliki mutu yang setara dengan mi berbahan gandum.
Peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini Tengah mengembangkan seperangkat peralatan ekstrusi untuk menghasilkan mi bebas gluten berbasis sorgum.
Lia Ratnawati dari Pusat Riset Teknologi Proses (PRTP), Organisasi Riset Energi dan Manufaktur (OREM) – BRIN, mengatakan, bahan baku utama mengolah mi sorgum adalah tepung sorgum yang berasal dari biji sorgum kering yang telah melalui proses penepungan.
Tepung sorgum yang digunakan memiliki tingkat kehalusan 40 mesh, dengan karakteristik cita rasa dan bau netral, berwarna putih kecokelatan, tidak apek, tidak berbau, bebas hama, serta dalam kondisi kering, kata Lia.
Untuk mengatasi keterbatasan sorgum sebagai bahan baku mi, digunakan bahan tambahan berupa tepung jagung, tepung beras, dan tepung tapioka.
Penambahan bahan-bahan tersebut bertujuan meningkatkan elastisitas adonan sehingga mampu membentuk untaian mi yang panjang dan tidak mudah patah.
Adonan yang telah tercampur kemudian dimasukkan ke dalam mesin ekstruder untuk melalui rangkaian proses selanjutnya hingga terbentuk mi kering bebas gluten berbasis sorgum.




