Temuan paling penting dari penelitian ini adalah indikasi bahwa tarsius bentuk akustik Labanu kemungkinan merupakan hibrida stabil, yaitu hasil persilangan antara Tarsius supriatnai dan Tarsius spectrumgurskyae.
Meskipun memiliki ciri unik, karakter morfologi yang saling tumpang tindih menunjukkan bahwa populasi ini belum dapat dipastikan sebagai spesies baru yang berdiri sendiri.
Menurut Zuliyanto, analisis morfologi saja belum cukup untuk menarik kesimpulan final. Diperlukan analisis genetik untuk memastikan apakah Labanu merupakan spesies baru atau hasil hibridisasi.
Selain aspek morfologi, penelitian ini juga menyoroti kondisi habitat tarsius bentuk akustik Labanu yang semakin terfragmentasi.
Dari total wilayah persebarannya, hanya sekitar 221,8 km2 yang masih berupa hutan. Dalam beberapa tahun terakhir, deforestasi tercatat terjadi di area seluas sekitar 17,6 km2, terutama akibat ekspansi pertanian dan pemukiman.
Di sisi lain, regenerasi hutan muda memang terjadi, namun belum sepenuhnya mampu menggantikan fungsi hutan alami. Kondisi ini menyebabkan habitat tarsius terpecah-pecah, sehingga berpotensi mengganggu pergerakan dan pertukaran gen antar populasi.
Sebagai primata endemik Sulawesi, tarsius memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.



