“Aplikasi ini terbagi ke dalam dua peran utama sesuai user yang ada. Fitur-fitur aplikasi yang tersedia dipisah berdasarkan kebutuhan masing-masing peran, yaitu fitur bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan dan fitur bagi relawan/Tim SAR sebagai pihak berwajib penyedia bantuan,” kata Amalia, seperti dikutip dari Ui.ac.id, Senin (28/12).
Menurut Amalia, aplikasi ini tidak hanya menyediakan sarana untuk melaporkan bencana saja. Tapi juga dapat digunakan untuk menyalurkan bantuan secara lebih optimal dan tepat sasaran dengan tersedianya database korban dan kebutuhan yang diperlukan oleh korban banjir.
Selain itu, aplikasi Flood dapat berfungsi sebagai penyedia informasi terkait ramalan cuaca dan potensi banjir, serta menjadi kanal bantuan bagi para korban banjir agar mudah untuk dicari.
Dengan acuan aplikasi mitigasi banjir yang telah diluncurkan oleh pemerintah maupun Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), aplikasi “Flood” menawarkan kemudahan alur penggunaan, serta waktu yang efektif untuk mengakses berbagai macam fitur yang terdapat pada aplikasi tersebut.
Di awal November 2020, kata Amalia, tim Laboratorium Pengembangan Produk dan Inovasi UI telah melakukan pengujian dari prototipe aplikasi Flood dengan melibatkan narasumber di area Jabodetabek yang pernah menjadi korban banjir.





Komentar tentang post