Tak hanya faktor alamiah, ancaman antropogenik seperti pencemaran perairan, by-catch, dan tabrakan kapal juga menjadi pemicu utama. Pada kasus di Kebumen, misalnya, seekor hiu paus terbukti mengalami keracunan logam berat. Iqbal menilai, kondisi serupa sangat mungkin terjadi di Purworejo.
Sinyal menguatnya fenomena ini terlihat dari rentetan kejadian beberapa hari sebelum penemuan di Pasir Puncu. Pada 6 Desember, individu hiu paus didorong kembali ke laut di Pantai Cemoro Sewu setelah ditemukan lemah. Dua hari kemudian, hiu yang diduga sama kembali terseret ombak dan akhirnya mati.
Kepala DLHP Purworejo, Wiyoto Harjono, mengatakan bahwa perubahan suhu dan salinitas laut dapat mengganggu navigasi hiu paus saat migrasi. Ia menambahkan, gangguan internal pada organ pencernaan dan pernapasan juga dapat membuat hiu kehilangan orientasi.

“Ada banyak faktor yang berperan. Kondisi lingkungan sangat mungkin memengaruhi kejadian ini.”
Sementara itu, pihak Sealife Indonesia melalui dokter hewan Dwi Suprapti melakukan nekropsi untuk mengetahui penyebab kematian. Hasil awal menunjukkan tidak ada luka serius pada tubuh hiu paus, kecuali bekas melepuh pada bagian ekor. Namun temuan yang paling signifikan justru berada pada lambung.
“Lambung penuh dengan udang rebon yang belum tercerna. Ada indikasi toksikasi, namun harus dipastikan melalui uji laboratorium.”




