Material yang dihasilkan dari aktivitas tersebut secara bertahap membangun kerucut baru di dalam kawah pascakolaps. Salah satu proses pertumbuhan terlihat dari pembentukan lava pada 2020 yang menumpuk di atas material hasil aktivitas setelah runtuhan.
“Setelah kolaps, Anak Krakatau memasuki fase pembangunan kembali,” ujar Dini seperti dikutip dari Brin.go.id.
Menurut Dini, aktivitas berkembang dari erupsi yang masih dipengaruhi interaksi air menuju Strombolian, lava fountain, dan aliran lava, yang secara bertahap membangun kerucut baru di dalam kawah pascakolaps.

Temperatur Magma
Temperatur magma Gunung Anak Krakatau diperkirakan mencapai 916–1.034°C, secara umum lebih tinggi dibandingkan Old dan Young Krakatau. Krakatau memiliki karakter pembentukan kaldera yang berulang.
Berdasarkan hasil tersebut, model sistem magma plumbing menunjukkan bahwa Old dan Young Krakatau memiliki sistem magma yang relatif dangkal, teroksidasi, dan lebih dingin.
Anak Krakatau menunjukkan karakter magma yang lebih dalam, panas, dan tereduksi, menurut peneliti Ahli Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Aditya Pratama, dalam Geohazard Webinar 2026 #05, Senin (14/9).
Adapun tekanan penyimpanan magma Gunung Anak Krakatau 185–665 MPa, diperkirakan berkaitan dengan kedalaman sekitar 7,4–26,6 kilometer.




