Pulau Tunda memiliki luas sekitar 260 ha dengan jumlah penduduk sekitar 1.700 jiwa, di mana sekitar 85% kepala keluarga bermata pencaharian sebagai nelayan tradisional.
Ketergantungan pada sektor kelautan dan perikanan telah berlangsung secara turun-temurun, namun nelayan kerap menghadapi kendala, termasuk kesulitan memperoleh bahan bakar solar.
“Kapal listrik tenaga surya dari hasil riset BRIN ini sangat membantu warga kami. Kami berharap teknologi ini benar-benar dapat meningkatkan kesejahteraan nelayan,” ujar Hasyim.
Kepala Pusat Riset Teknologi Transportasi BRIN, Aam Muharam menyampaikan “Lewat inisiasi Co-Development (Co-Dev), kolaborasi ini menghasilkan komponen teknologi kapal listrik yang tidak hanya inovatif, tetapi juga relevan dengan kondisi operasional di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).
“Diharapkan kapal listrik dan ekosistem energinya dapat menjadi solusi transportasi perairan yang ramah lingkungan, terjangkau, dan berdaya guna bagi masyarakat di daerah 3T, serta menjadi langkah strategis menuju masa depan transportasi berkelanjutan di Indonesia,” katanya.
Aam mengatakan proyek ini menargetkan distribusi 162 cooler box bertenaga surya dan enam mesin kapal listrik untuk 34 desa di Morotai dan Kepulauan Tanimbar.




