Selama dua hari workshop, peserta menerima pembekalan mengenai berbagai aspek penting LMI, termasuk identifikasi misinformasi dan disinformasi, pemahaman terhadap batasan kebebasan berekspresi serta ujaran kebencian online, perlindungan data pribadi, etika penggunaan kecerdasan artifisial (AI), hingga strategi membangun keberagaman dan inklusi di ruang digital. Peserta juga melakukan simulasi penerapan LMI di kelas dan merancang kegiatan yang dapat diadaptasi sesuai dengan karakteristik sekolah masing-masing.
Workshop ditutup dengan penyusunan rencana implementasi sekolah, yang mencakup integrasi materi LMI ke dalam pembelajaran, penguatan peran guru sebagai fasilitator literasi digital, serta terbentuknya Komunitas Penggerak Literasi Media dan Informasi. Komunitas ini diharapkan menjadi wadah kolaborasi antar guru untuk berbagi praktik baik, materi ajar, dan contoh kegiatan literasi yang berkelanjutan.
UNESCO dan Solopos Institute berharap inisiatif ini dapat memperkuat kapasitas guru di bawah Kementerian Agama dalam mendampingi murid menghadapi tantangan era digital. Selain memperkaya kualitas proses pembelajaran, penguatan literasi media dan informasi diyakini dapat membantu siswa mengembangkan daya kritis, kemampuan verifikasi, serta kebiasaan digital yang sehat. Keterampilan yang semakin penting bagi generasi muda Indonesia di tengah banjir informasi dan dinamika ruang digital yang terus berkembang.




