Kebutuhan ini terus meningkat seiring berkembangnya teknologi tinggi, termasuk kendaraan listrik dan sistem energi berbasis baterai.
Ernowo menjelaskan bahwa kekayaan mineral tersebut terbentuk dari proses geologi kompleks, mulai dari aktivitas magmatik, hidrotermal, hingga proses pelapukan di permukaan.
Potensi ini, menurutnya, harus dikelola melalui tata kelola yang progresif dan berbasis riset, termasuk melalui klasifikasi 47 mineral kritis dan 22 mineral strategis.
Ernowo juga menekankan pentingnya penerapan prinsip zero waste mining, yaitu pengelolaan sumber daya tanpa menyisakan potensi ekonomis yang terbuang.
“Kita perlu menginisiasi riset dan eksplorasi secara proaktif untuk memastikan ketahanan pasokan material strategis nasional,” ujarnya.
Menurut Ernowo, hilirisasi menjadi kunci untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral sekaligus mendorong kesejahteraan masyarakat.
Pendekatan berbasis riset dinilai penting untuk mengidentifikasi sumber daya baru serta memahami karakter geologi yang membentuk endapan mineral di Indonesia.
Melalui forum ini, BRIN mendorong agar hasil riset tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi menjadi landasan dalam pengambilan kebijakan strategis nasional.
Upaya ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain kunci dalam rantai pasok global mineral kritis yang semakin dibutuhkan di era transisi energi.




