Kombinasi data oseanografi tersebut memungkinkan pemetaan zona perikanan yang lebih akurat dan berbasis sains.
Widodo juga menekankan bahwa dinamika upwelling tidak terlepas dari pengaruh sistem iklim global seperti El Niño–Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD). Kedua fenomena ini memengaruhi pola angin dan arus laut yang berkontribusi terhadap intensitas dan variabilitas upwelling.
Fenomena upwelling ibarat memompa pupuk alami dari laut dalam ke permukaan, akan tetapi ”dampaknya terhadap kelimpahan ikan tidak terjadi seketika, namun ada jeda waktu sekitar satu hingga dua bulan,” ujar Widodo seperti dikutip dari Brin.go.id.
Di sisi lain, pemanfaatan fenomena ini menghadirkan tantangan nyata bagi nelayan. Kondisi laut yang dinamis, ancaman siklon tropis, serta gelombang ekstrem menjadi risiko keselamatan yang tidak bisa diabaikan.
Oleh karena itu, nelayan diimbau untuk terus memantau informasi cuaca dan iklim dari BMKG.
Widodo mengatakan nelayan perlu memantau informasi dari BMKG terkait dinamika ENSO dan IOD. Di sisi lain, gelombang tinggi dan kondisi laut ekstrem dapat membahayakan aktivitas penangkapan ikan.
Tak hanya faktor keselamatan, aspek ekonomi juga menjadi perhatian. Operasi penangkapan ikan di laut lepas dengan kondisi gelombang tinggi membutuhkan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) yang lebih besar, sehingga berdampak pada efisiensi usaha nelayan.




