Darilaut – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) akan melaksanakan rukyat (observasi) hilal di 37 lokasi di Indonesia.
Pemantauan hilal ini dapat disaksikan secara online melalui Live Streaming di kanal BMKG.
Untuk penentuan awal bulan Ramadan 1447 H, BMKG menyampaikan informasi data-data Hilal (hasil Hisab) saat Matahari terbenam, yang dapat digunakan dalam pelaksanaan observasi hilal.
Selain prakiraan hujan pekan ini, di beberapa wilayah di Indonesia, terdapat objek astronomis yang berpotensi mengacaukan rukyat.
Dalam perencanaan rukyat Hilal, menurut BMKG, perlu diperkirakan objek-objek astronomis selain Hilal dan Matahari yang posisinya berdekatan dengan Bulan dan kecerlangannya tidak berbeda jauh dengan Hilal atau lebih cerlang daripada Hilal.
Objek astronomis ini dapat berupa planet, misalnya Venus atau Merkurius, atau berupa bintang yang cerlang, seperti Sirius, kata BMKG.
Adanya objek astronomis ini berpotensi menjadikan pengamat menganggapnya sebagai hilal. Pada tanggal 17 Februari 2026, sejak Bulan terbenam hingga Matahari terbenam tidak ada objek astronomis lainnya yang jarak sudutnya lebih kecil daripada 10° dari Bulan.
BMKG mengatakan pada tanggal 18 Februari 2026, sejak Matahari terbenam hingga Bulan terbenam tidak ada objek astronomis lainnya yang jarak sudutnya lebih kecil daripada 10° dari Bulan.




