Mengingat orbitnya melintasi wilayah antara 52 derajat lintang utara sampai 52 derajat lintas selatan, BRIN menilai wilayah Indonesia termasuk dalam area potensial kejatuhan sampah antariksa tersebut.
“Sebagai negara di wilayah ekuator dengan wilayah yang sangat luas, Indonesia memiliki potensi kejatuhan Kosmos 482. Namun karena ketidakpastian faktor hambatan atmosfer, lokasi dan waktu jatuhnya masih sulit dipastikan,” kata Thomas.
Pusat Riset Antariksa terus melakukan pemantauan secara intensif lintasan orbitnya menjelang ketinggian kritis 120 km. Pemantauan ini penting untuk menentukan wilayah paling potensial kejatuhan sampah antariksa dengan melihat lintasan akhir orbitnya.
Meskipun wilayah Indonesia termasuk berpotensi kejatuhan objek Kosmos 482, probabilitasnya lebih besar jatuh di lautan atau hutan. Kemungkinannya kecil jatuh di wilayah berpenduduk, walau tidak bisa dikesampingkan.
“Masyarakat tidak perlu khawatir, namun tetap waspada,” kata Thomas. Tidak ada satu pun negara yang bisa mengantisipasi jatuhnya sampah antariksa yang tak terkendali.
Kosmos 482 sendiri merupakan bagian dari program eksplorasi Planet Venus Uni Soviet yang dikenal dengan nama Venera.
Wahana ini memiliki berat sekitar 1,2 ton. Pada awalnya wahana ini pecah menjadi empat bagian. Dua bagian kecil segera jatuh pada 1972. Bagian ketiga yang paling besar berbobot sekitar 0,7 ton jatuh pada Mei 1981 Komponen yang tersisa adalah modul pendarat berbobot 0,5 ton.




