“Mereka tidak mengambil air tanah tapi terkena dampaknya, karena intrusi air laut mereka tidak bisa mengambil air tanah. Saya sangat mengimbau dan saya percaya Gubernur DKI Jakarta yang sekarang sangat konsern tentang lingkungan hidup, tentang ekologi dan Kementerian ini juga punya konsern yang besar dan saya pribadi juga punya konsern yang besar terhadap air tanah,” kata Jonan.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Rudy Suhendar mengatakan, penurunan permukaan air tanah yang terjadi di Jakarta terbanyak terjadi di wilayah Jakarta Bagian Utara, sehingga saat ini muka air laut sudah mencapai 1,5 meter di atas permukaan tanah Jakarta Utara.
“Kebutuhan akan air bersih masyarakat Jakarta termasuk hotel dan sarana umum lainnya masih didominasi dari air tanah yakni mencapai 60 persen, sisanya didapat dari air Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM),” ujar Rudy.
Pengambilan air tanah berlebihan di Jakarta telah mengakibatkan turunnya muka air tanah yang ikut menjadi penyebab terjadinya penurunan tanah dan intrusi air laut. Terutama di wilayah utara Jakarta.
Muka air tanah terendah yang terekam pada tahun 2013 di wilayah cekungan air tanah Jakarta sekitar – 40 meter di bawah permukaan laut (dpl) dari posisi awalnya. Pada tahun 2018 mengalami perubahan positif terpantau muka air tanah terendah di Jakarta utara pada level -35 meter dpl.





Komentar tentang post