Zulkifli Tanipu, M.A.,Ph.D., Dosen Tetap Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo
Kelas bahasa Inggris hari ini jauh berbeda dibanding sepuluh tahun lalu. Dosen tidak lagi hanya mengandalkan papan tulis dan buku, tetapi juga video, infografik, animasi, kuis digital, hingga kecerdasan buatan.
Semakin banyak media digunakan, semakin modern sebuah pembelajaran terlihat. Namun ada satu pertanyaan yang layak kita ajukan: apakah banyaknya media benar-benar membuat mahasiswa belajar lebih baik?
Saya pernah mengamati sebuah perkuliahan yang sangat interaktif. Dalam satu pertemuan, mahasiswa menonton video, membaca slide, mendengarkan penjelasan, lalu mengerjakan kuis melalui gawai. Suasananya hidup dan tidak membosankan. Akan tetapi, ketika diminta menjelaskan kembali konsep yang dipelajari, sebagian mahasiswa justru kesulitan menghubungkan ide-ide utamanya. Mereka mengingat potongan informasi, tetapi belum membangun pemahaman yang utuh.
Masalahnya ternyata bukan pada medianya, melainkan pada cara berbagai media itu bekerja di dalam pikiran. Otak memiliki perhatian yang terbatas. Ketika teks, gambar, suara, dan animasi hadir secara bersamaan, semuanya bersaing untuk mendapatkan perhatian mahasiswa. Akibatnya, kapasitas kognitif dan memori lebih banyak digunakan untuk mengikuti berbagai rangsangan audio-visual daripada memahami makna yang paling penting.




