Kenaikan komoditas itulah yang memicu inflasi di negara tujuan ekspor Indonesia, terutama Amerika, China, Jepang, dsb. Kenaikan inflasi ini terjadi karena kenaikan harga energi, baik minyak maupun gas. Penyebab inflasi di negara tujuan ekspor.
Terutama di Amerika terjadi karena kebijakan fiskal stimulus yang menyebabkan inflasi. Jadi memang fiskal stimulus di Amerika terlalu besar yaitu 10 persen terhadap PDB.
“Kenapa bisa berlebihan, bisa jadi ada faktor lain misalnya kapasitas produksi dan permintaan yang tidak seimbang. Namun jangan diartikan fiskal stimulus itu jelek,” kata Pihri.
Secara perekonomian di Amerika, menurut Pihri, sudah mulai membaik, memperlambat perekonomian ada kemungkinan tingkat suku bunga masih meningkat mengikuti data pengangguran dan inflasi di Amerika.
Kemudian di China karena basisnya manufkatur, menarik dilihat tahun 2022. Karena negara-nehara Asia terutama China masih positif namun terjadi pelambatan.
“Karena negara tujuan ekspor Indonesia rata rata semua melambat. Jadi kemungkinan ekspor kita akan menurun imbas permintaan menurun. Jadi 2023 akan terjadi penurunan pertumbuhan ekspor,” kata Pihri.
Namun demikian, Pihri mengatakan, terdapat kekhawatiran jika melihat neraca sektoral yang merupakan gabungan antara neraca pemerintah, neraca sektor luar negeri dan neraca sektor swasta.





Komentar tentang post