Menurut Pihri berdasarkan pengalaman krisis moneter 1997-1998, terdapat kombinasi neraca keuangan pemerintah dalam kondisi surplus (positif) sementara neraca keuangan swasta negatif ini menyebabkan krisis.
Artinya, neraca swasta domestik bisa menjadi faktor penting untuk melihat datangnya instabilitas perekonomian karena krisis moneter di Asia salah satunya dipicu oleh defisit neraca swasta domestik.
Menurut Pihri Indonesia harus berhati-hati karena masih ada potensi instabilitas shock dari luar. Salah satu sumbernya adalah hutang pemerintah. Jika melihat hutang Indonesia masih rendah tapi meningkat terus.
“Saya rasa bukan masalah rasio hutang aman atau tidak, negara maju rata rata hutangnya 100 persen. Negara berkembang dibawah 50. Artinya negara maju itu tingkat hutang pemerintahnya juga tinggi,” katanya.
“Tapi yang perlu diperhatikan adalah komposisi hutang itu dominasi uang asing atau domestik.”
Indonesia walaupun memiliki rasio hutang rendah akan tetapi jumlah mata uang asing cukup tinggi sebesar 30 persen.
“Kita harus berhati-hati ini menjadi salah satu resiko instabilitas makro ekonomi, sebaiknya untuk mengurangi ketidakpastian pembiayaan obligasi dalam mata uang lokal,” ujarnya.
Di sisi lain, Pihri juga sudah memproyeksi skenario pertumbuhan ekonomi terburuk terutama jika terjadi perang nuklir. Selain itu ditambah lagi jika proyek ekonomi Tiongkok mengalami stagnan hingga negatif, maka ekonomi Indonesia berpeluang akan mengalami resesi.





Komentar tentang post