Menurut peneliti ahli madya BRIN, Bagus Kukuh Udiarto, diperlukan strategi pengelolaan organisme pengganggu tanaman cabai ramah lingkungan dengan menggabungkan varietas tahan, teknik bercocok tanam, pengendalian fisik, pengendalian biologi dan pengendalian kimia terakhir.
Adapun implementasi pengelolaan organisme pengganggu tanaman cabai ramah lingkungan dimulai dari pemilihan varietas, dipersemaian, sebelum tanam, setelah tanam.
Udiarto mengatakan permasalahan cabai nasional lebih disebabkan oleh adanya serangan organisme pengganggu tanaman, terutama pada masa produksi cabai pada bulan-bulan hujan, serangan sangat tinggi, sehingga produksi sangat menurun dan penggunaan pestisida berlebih.
Peningkatan daya saing produk cabai nasional diperlukan dalam upaya memenangkan persaingan global melalui penerapan teknologi inovatif.
Penerapan inovasi dapat meningkatkan efisiensi dan efektivitas produksi, mengembangkan produk yang unik untuk menciptakan segmen pasar baru, menghasilkan kreasi baru dalam pengemasan, pemasaran dan distribusi serta mempercepat delivery ke tangan konsumen dan lainnya.
Peneliti ahli utama BRIN, Budi Winarto, mengatakan, teknologi haploid adalah teknologi kultur jaringan yang dieksplorasi, dimanfaatkan, digunakan untuk menghasilkan satu atau beberapa hasil generasi gamet jantan atau betina untuk menghasilkan tanaman haploid dan/atau haploid ganda yang disebut juga dengan galur murni.





Komentar tentang post