Teknologi ini dapat mendukung pemuliaan, mutasi, transformasi genetik, pemetaan genetik, genomik dan perbenihan. Teknologi ini dapat dilakukan secara in vivo dan in vitro.
Pengembangan teknologi haploid pada cabai dapat dilakukan dengan cara, pertama, dengan kultur anther tetapi teknologi ini tidak efektif dan sangat dipengaruhi oleh genotype tanaman, kata Budi.
Kedua, kultur mikrospora, teknologi ini juga kurang efektif karena hanya menghasilkan sedikit embrio dan tanaman. Ketiga kultur shed microspore, teknologi ini sangat menjanjikan karena embrio dalam jumlah yang lebih besar.
Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Puji Lestari, mengatakan, fluktuasi produksi cabai setiap musim menyebabkan kenaikan harga cabai cukup signifikan sehingga mempengaruhi tingkat inflasi.
Pada musim hujan produksi cabai biasanya selalu rendah karena sebagian besar sawah ditanami padi dan di lahan kering banyak petani yang enggan menanam cabai karena risiko gagal panen tinggi,” kata Puji.
Belum lagi adanya dampak perubahan iklim global. Hal ini, menurut Puji, menyebabkan menurunnya kualitas dan produktivitas cabai dan berkembangnya populasi organisme pengganggu tanaman perlu untuk secara terus menerus diantisipasi.





Komentar tentang post